• MTS NEGERI 23 JAKARTA
  • DUA TIGA

Kiai Kholil Bangkalan : Biografi dan Teladan

Muhammad Kholil atau biasa dipanggil Kiai Kholil Bangkalan lahir pada tahun 1820 dan wafat pada tahun 1925. Beliau ialah seorang ulama yang cerdas dari kota Bangkalan, Madura. Beliau telah menghafal al-Qur`an dan memahami ilmu perangkat Islam seperti nahwu dan sharaf sebelum berangkat ke Makkah.

Beliau pertama kali belajar pada ayahnya, Kiai Abdul Lathif. Lalu belajar kitab ‘Awamil, Jurūmīyah, ‘Imrīthī, Sullam al-Safīnah, dan kitab-kitab lainnya kepada Kiai Qaffal, iparnya. Kemudian beliau melanjutkan belajar pada beberapa kiai di Madura yaitu Tuan Guru Dawuh atau Bujuk Dawuh dari desa Majaleh (Bangkalan), Tuan Guru Agung atau Bujuk Agung, dan beberapa lainnya sebelum berangkat ke Jawa.

Ketika berada di Jawa, beliau belajar kepada Kiai Mohammad Noer selama tiga tahun di Pesantren Langitan (Tuban), Kiai Asyik di Pesantren Cangaan, Bangil (Pasuruan), Kiai Arif di Pesantren Darussalam, Kebon Candi (Pasuruan) dan Kiai Noer Hasan di Pesantren Sidogiri (Pasuruan) dan Kiai Abdul Bashar di Banyuwangi.

Setelah belajar di Madura dan Jawa, beliau berangkat ke Makkah. Beliau belajar ilmu qira`ah sab’ah sesampainya di Makkah. Di sana beliau juga belajar kepada Imam Nawawi al-Bantany, Syaikh Umar Khathib dari Bima, Syaikh Muhammad Khotib Sambas bin Abdul Ghafur al-Jawy, dan Syaikh Ali Rahbini.

Kiai Kholil pun menikah dengan seorang putri dari Raden Ludrapati setelah kembali dari Makkah. Dan beliau akhirnya menghembuskan nafas pada tahun 1925. Selama hidup, beliau telah menuliskan beberapa kitab yaitu al-Matn asy-Syarīf, al- Silāh fī Bayān al-Nikāh, Sa’ādah ad-Dāraini fi as-Shalāti ‘Ala an-Nabiyyi ats- Tsaqolaini dan beberapa karya lainnya

eladan dari Kiai Kholil al-Bangkalani

1. Pantang menyerah dan senantiasa berusaha

Kiai Kholil ialah seorang yang selalu berusaha dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Hal ini terbukti saat di Jawa, Kholil tak pernah membebani orang tua atau pengasuhnya, Nyai Maryam. Beliau bekerja menjadi buruh tani ketika belajar di kota Pasuruan. Beliau juga bekerja menjadi pemanjat pohon kelapa ketika belajar di kota Banyuwangi. Dan beliau menjadi penyalin naskah kitab Alfiyah Ibn Malik untuk diperjual belikan ketika belajar di Makkah. Setengah dari hasil penjualannya diamalkan kepada guru-gurunya.

Setelah pulang dari Makkah, Kiai Kholil bekerja menjadi penjaga malam di kantor pejabat Adipati Bangkalan. Beliau selalu menyempatkan membaca kitab- kitab dan mengulangi ilmu yang telah didalaminya selama belasan tahun.

Beliau pun menikahi putri seorang kerabat Adipati, Raden Ludrapati yang pernah tertarik menjadikannya menantu. Setelah itu, beliau pun berdakwah dan berhasil membangun beberapa masjid, pesantren dan kapal Sarimuna yang kelak diwariskan pada anak-cucunya. Pembangunan masjid, pesantren dan kapal tersebut memiliki pesan simbolik bahwa kegiatan dakwah harus beriringan dengan ekonomi yang baik.

2. Ketulusan dalam beramal

Ketika ada sepasang suami-istri yang ingin berkunjung menemui Kiai Kholil, tetapi mereka hanya memiliki “Bentol”, ubi-ubian talas untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Akhirnya keduanya pun sepakat untuk berangkat. Setelah tiba di kediaman pak kiai, Kiai Kholil menyambut keduanya dengan hangat. Mereka kemudian menghaturkan bawaannya dan Kiai Kholil menerima dengan wajah berseri-seri dan berkata, “Wah, kebetulan saya sangat ingin makan bentol”. Lantas Kiai Kholil meminta “Kawula”, pembantu dalam bahasa jawa untuk memasaknya. Kiai Kholil pun memakan dengan lahap di hadapan suami-istri yang belum diizinkan pulang tersebut. Pasangan suami-istri itu pun senang melihat Kholil menikmati oleh-oleh sederhana yang dibawanya.

Setelah kejadian itu, sepasang suami-istri tersebut berkeinginan untuk kembali lagi dengan membawa bentol lebih banyak lagi. Tapi sesampainya di kediaman pak kiai, Kiai Kholil tidak memperlakukan mereka seperti sebelumnya. Bahkan oleh-oleh bentol yang dibawa mereka ditolak dan diminta untuk membawanya pulang kembali. Dalam perjalanan pulang, keduanya terus berpikir tentang kejadian tersebut.

Dalam kedua kejadian ini, Kiai Kholil menyadari bahwa pasangan suami- istri berkunjung pertama kali dengan ketulusan ingin memulyakan ilmu dan ulama. Sedangkan dalam kunjungan kedua, mereka datang untuk memuaskan kiai dan ingin mendapat perhatian dan pujian dari Kiai Kholil.

5 Karomah Sakti Mbah Kholil Bangkalan Madura yang Dirahasiakan oleh Beliau

Karomah Syaikhona Kholil Bangkalan Madura atau Mbah Kholil sangatlah banyak, baik itu yang diketahui umum maupun yang tersembunyi.

Berikut ini lima karomah Mbah Kholil Bangkalan Madura yang dirahasiakan oleh Beliau.

1. Melihat berkat di kepala Kyai imam masjid

Mbah Kholil muda dan berstatus sebagai santri, beliau melaksanakan sholat Jumat di pesantren yang beliau tempati.

Tiba-tiba saat akan melaksanakan takbiratul ihram Mbah Kholil muda tertawa sangat keras hingga terdengar seluruh jemaah sholat Jumat.

Mbah Kholil pun ditegur oleh teman-temannya

"Tidak boleh tertawa ditakutkan Kyai yang menjadi imam marah-marah".

Namun beliau masih saja tertawa terpingkal. Dugaan teman-temannya itu ternyata tidak keliru setelah selesai sholat Sang Kyai imam masjid tadi menegur Mbah Kholil muda bahwa dalam salat itu tidak boleh tertawa.

Akhirnya Mbah Kholil muda menjawab

"Saya melihat berkat atau makanan yang dibungkus di kepala Kyai saat sholat berlangsung tadi," kata Mbah Kholil muda sambil tersenyum

Mendengar jawaban tersebut Sang Kyai menjadi sadar dan merasa malu karena Kyai ingat bahwa saat menjadi imam tadi merasa tergesa-gesa, untuk menghadiri kenduri sehingga mengakibatkan shalatnya tidak khusyu.

2. Mengambil kepiting dan rajungan di laut saat Bahtsul Masa'il di Makkah

Para ulama Makkah berkumpul di Masjidil Haram untuk berdiskusi membahas masalah dan hukum Islam yang sedang terjadi di Makkah.

Semua masalah dapat diselesaikan kecuali mengenai halal haramnya kepiting dan rajungan. Terjadi banyak pendapat dan tidak menemukan solusi.

Mbah Kholil duduk berada di antara peserta lainnya. Melihat permasalahan tersebut belum menemukan solusi, Mbah Kholil minta izin untuk menawarkan solusi.

Akhirnya Mbah Kholil dipersilahkan kedepan oleh pimpinan diskusi untuk menjelaskan solusi yang ditawarkan

"Saudara sekalian ketidaksepakatan dalam menentukan hukum kepiting dan rajungan ini disebabkan kita belum pernah melihat bentuk aslinya," ujar Mbah Kholil

"Kepiting seperti ini," ucap Kiai Kholil sambil memegang dan menunjukkan kepiting yang masih basah.

"Sedangkan rajungan seperti ini," lanjut beliau seakan beliau baru saja mengambilnya dari laut.

Pada saat itu, usai Mbah Kholil menjelaskan semua hadirin merasa terpana dan suasana menjadi gaduh mereka saling bertanya dari mana Kholil mendapatkan kedua hewan tersebut.

Dalam sekejap saja setelah kejadian tersebut akhirnya para ulama menemukan solusi dan Mbah Kholil disegani para Ulama Masjidil Haram.

3. Kehabisan waktu sholat ashar di Madura akhirnya jamaah di Masjidil Haram

Mbah Kholil dan Kyai Syamsul Arifin sedang berdiskusi di pinggir pantai membahas pesantren dan keadaan umat pada masa itu.

Beliau berdiskusi begitu lama hingga lupa bahwa waktu sholat ashar segera habis.

"Kita belum sholat ashar Kyai," kata Kyai Samsul Arifin mengingatkan.

"Astagfirullah," kata Mbah Kholil menyadari kekhilafannya.

"Waktu Ashar hampir habis kita tidak mungkin salat secara sempurna Kyai," ucap Kyai Syamsul Arifin.

"Kalau begitu ambil krocok," kata Mbah Kholil.

Kyai Samsul Arifin masih bingung bukannya mencari tempat wudhu dan mushola malah disuruh mencari daun krocok.

Namun Kyai Syamsul beliau tetap mendengarkan dan menuruti perintah Mbah Kholil untuk mencari daun krocok.

Setelah menemukan daun kerocok diberikan Mbah Kholil lantas Mbah Kholil mengajak Kyai Syamsul untuk menaiki di atas krocok tersebut.

Tiba-tiba krocok itu meleset super cepat ke arah Makkah. Sesampainya di Makkah adzan sholat ashar baru saja dikumandangkan dan mereka mendapatkan shaf pertama sholat ashar berjamaah di Masjidil Haram.

4. Mengubah arah kiblat masjid

Mbah Kholil sedang memantau masjid yang dibangun oleh menantu beliau Kyai Muntaha.

Ketika melihat arah kiblat, Mbah Kholil menegur menantu yang alim itu untuk membenahi arah kiblatnya.

Sebagai orang alim Kyai Muntaha mempunyai alasan sendiri dalam menentukan arah kiblat.

Beberapa argumen ditunjukkan kepada Mbah Kholil untuk memperkuat pendapatnya.

Melihat menantu masih tetap mempertahankan pendapatnya lantas Mbah Kholil tersenyum sambil berjalan ke arah pengimaman diikuti menantu.

Kemudian Mbah Kholil mengambil kayu untuk melubangi dinding dan meminta Kyai Muntaha melihat lubang tersebut betapa kagetnya setelah melihat lubang itu ternyata terlihat Ka'bah sangat jelas.

Akhirnya Kyai Muntaha sadar bahwa pendapatnya salah dan mengbah kiblat sesuai dengan pendapat Mbah Kholil.

5. Menyelamatkan perahu tenggelam

Kesaktian lain dari Mbah Kholil yang diluar nalar manusia yaitu beliau bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.

Pernah ada peristiwa aneh saat beliau pengajian di pesantren Mbah Kholil melakukan gerakan yang tak terlihat mata dengan tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyup.

Para santri pun heran dan penuh bertanya-tanya sedangkan beliau cuek tidak bercerita apapun, langsung meninggalkan santrinya dan masuk rumah untuk mengganti baju.

Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan ke Mbah Kholil untuk mengucapkan terima kasih karena pertolongan dari beliau orang itu bisa selamat dari bahaya tenggelamnya perahu di tengah laut.

Kedatangan nelayan itu membuka segala kebingungan dan pertanyaan selama ini, ternyata saat pengajian Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah

Dengan Karomah yang dimiliki dalam sekejap beliau bisa sampai di laut dan membantu si nelayan itu.

Demikian kisah 5 Karomah Syaikhona Kholil Bangkalan Madura yang dirahasiakan oleh beliau semoga bermanfaat. _Waallahu'alam bishawab_.***

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PENTINGNYA KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN

ASSALAMU’ALAIKUM  WARAHMATULLAHI  WABARAKATUH Segala puji syukur mari sama-sama kita panjatkan kehadhirat  ALLAH  SWT yang telah memberikan kesehatan dan keku

05/03/2024 12:21 - Oleh chotaman - Dilihat 1 kali
Keutamaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang mulia dan penuh berkah, dengan Ramadhan kita dapat berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Ibarat lahan yang subur akan senantiasa t

04/03/2024 08:36 - Oleh chotaman - Dilihat 2 kali
Sejarah Banjir Jakarta dari Zaman Tarumanegara hingga Hindia Belanda

Jakarta identik dengan istilah kota langganan banjir. Tiap kali hujan deras, beberapa daerah di Jakarta hampir selalu tergenang banjir. Salah satu penyebab utamanya adalah karena perila

19/01/2024 10:56 - Oleh chotaman - Dilihat 187 kali
Kisah Mukjizat Nabi Muhammad: Memancarkan Air di Sela-sela Jari

Humas mtsn 23 - Mukjizat dikaruniai oleh Allah SWT kepada para nabi dengan tujuan membantu utusanNya menjalankan tugas kenabian mereka. Termasuk Nabi Muhammad SAW yang disebut dikarunia

08/01/2024 10:56 - Oleh chotaman - Dilihat 334 kali
Kisah Nabi Muhammad Membelah Bulan

Kisah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم membelah bulan benar-benar menakjubkan hingga membuat Raja penyembah berhala dari Syam, Habib bin Malik bersyahadat dan sujud syuku

05/01/2024 14:08 - Oleh chotaman - Dilihat 1493 kali
Sejarah Pembentukan Kementerian Agama

Usulan pembentukan Kementerian Agama pertama kali disampaikan oleh Mr. Muhammad Yamin dalam Rapat Besar (Sidang) Badan Penyelidik Usaha – Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BP

02/01/2024 12:06 - Oleh chotaman - Dilihat 219 kali
Biografi Singkat Guru Sekumpul, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Martapura

Guru Sekumpul atau Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari, lahir di Desa Tunggul Irang, Kota Martapura pada 11 Februari 1942. Ulama besar asal Kalimantan Selatan ini meninggal

18/12/2023 10:00 - Oleh chotaman - Dilihat 4543 kali
KH. Muhammad Dimyathi al-Bantani (Abuya Dimyathi)

KELAHIRANKH. Muhammad Dimyathi atau yang kerap disapa dengan panggilan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim lahir lahir sekitar pada tahun 1925 di Banten. Beliau merupakan putra dari pasangan H

18/12/2023 09:21 - Oleh chotaman - Dilihat 593 kali
Disunnahkan Puasa, Ini Alasan di Balik Penamaan Ayyamul Bidh

Umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunnah pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Hijriah. Hari-hari ini disebut dengan ayyamul bidh.Dalam hadits tersebut, disebut siapa ya

13/12/2023 09:13 - Oleh chotaman - Dilihat 202 kali
Ini Dia, Para Ulama Penyebar Islam di Jawa Sebelum Wali Songo

Islam mulai menguat di Jawa sejak sekitar abad ke-15. Ajarannya yang mampu beradaptasi dengan kultur dan budaya penduduk lokal sedikit demi sedikit menggerus keberadaan dua agama besar

12/12/2023 12:57 - Oleh chotaman - Dilihat 1763 kali