• MTS NEGERI 23 JAKARTA
  • DUA TIGA

Sejarah Banjir Jakarta dari Zaman Tarumanegara hingga Hindia Belanda

Jakarta identik dengan istilah kota langganan banjir. Tiap kali hujan deras, beberapa daerah di Jakarta hampir selalu tergenang banjir. Salah satu penyebab utamanya adalah karena perilaku masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan ke kali atau sungai, sehingga menghambat aliran air ketika hujan turun. Menurut Edi Sedyawati, dkk dalam Sejarah Kota Jakarta (1950-1980) (1986), penyebab utama lain Jakarta selalu tergenang banjir adalah karena kondisi lingkungan Jakarta yang dialiri 10 sungai besar dengan sistem drainase yang kurang memadai.
Zaenuddin HM dalam Banjir Jakarta (2013), menuliskan jika banjir di Jakarta sudah ada sejak zaman Tarumanegara, tepatnya saat Raja Purnawarman memimpin kerajaan tersebut pada abad ke-5.


Prasasti Tugu yang ditemukan pada 1878 di Jakarta Utara menjadi bukti otentik jika banjir di Jakarta sudah ada sejak zaman Kerajaan Tarumanegara. Secara garis besar, prasasti tersebut berisikan pesan jika Raja Purnawarman pernah menggali Kali Chandrabhaga di daerah sekitar Bekasi dan Kali Gomati atau yang sekarang dikenal sebagai Kali Mati di Tangerang. Penggalian tersebut merupakan upaya mengatasi banjir. Sungai yang digali tersebut diharapkan bisa mengalirkan debit air, sehingga banjir di Jakarta kala itu bisa segera surut. Selain itu, penggalian kali ini juga ditujukan untuk kepentingan irigasi sawah warga. Baca juga: Banjir Jakarta Buat Kawasan Elite Kemang Berubah Bak Sungai Kumuh... Banjir Jakarta pada 1621 Jakarta pada masa kolonial Belanda dikenal dengan sebutan Batavia. Saat itu, sebagian besar daerah Batavia masih berupa rawa dan hutan liar, sehingga sering tergenang banjir dari air beberapa sungai, terutama Kali Ciliwung yang meluap saat hujan deras.

Banjir Jakarta pada 1621 merupakan banjir pertama di era kekuasaan VOC di Nusantara, tepatnya pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Saat itu banyak rumah warga yang terbuat dari kayu sehingga mudah hanyut ketika banjir melanda Batavia. Struktur jalannya pun masih belum beraspal sehingga sangat sulit untuk dilalui sepeda atau dokar. Sebenarnya, Belanda sudah pernah membangun kanal sejak dua tahun sebelum bencana banjir ini terjadi. Namun, usahanya gagal karena Belanda tidak mengetahui letak geografis dan struktur topografi Jakarta kala itu.

Banjir Jakarta pada 1654 Saat Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker memimpin Batavia kala itu. Banjir besar kembali melanda Batavia. Penyebabnya karena hujan deras dan luapan air sungai, terutama Kali Ciliwung dan kiriman air dari hulu di Bueitenzorg atau Bogor. Kanal yang tersumbat oleh pasir membuat kanal tidak berfungsi saat banjir melanda. Joan Martsuycker telah membangun beberapa kanal tambahan, namun usahanya gagal karena kanal selalu dipenuhi sampah, lumpur dan pasir

Banjir Jakarta pada 1872 Banjir kembali melanda Batavia pada 1872, tepatnya pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal James Louden. Penyebabnya sama, yakni hujan deras dan luapan air sungai. Kanal kembali tidak bekerja, karena selalu tersumbat sampah, tanah, lumpur dan pasir. Upaya pembersihan kanal sering dilakukan, namun tetap tidak membantu karena kotoran lumpur yang dibersihkan tetap dibiarkan menumpuk di tepi kanal.

Banjir Jakarta pada 1893 Batavia kembali dilanda banjir pada 1893, tepatnya saat Gubernur Jenderal Carel HA van der Wijck memimpin. Penyebabnya yakni curah hujan yang sangat tinggi. Banjir besar yang melanda Batavia saat itu awalnya hanya menggenangi beberapa daerah saja. Namun, hujan terus mengguyur hingga hampir seluruh daerah Batavia tergenang banjir. Bencana banjir yang hampir melanda sebulan penuh ini telah merenggut banyak korban jiwa. Karena banyak warga Batavia yang terserang penyakit, seperti disentri, tifus bahkan malaria. Penyebab utamanya adalah air sumur yang tercemar dan sama sekali tidak layak konsumsi serta berkembang biaknya nyamuk anopheles.

Banjir Jakarta pada 1909 Curah hujan tinggi selalu menjadi penyebab utama Batavia dilanda banjir. Saat itu, Gubernur Jenderal Idenburg dan Belanda tidak berdaya untuk mengatasi permasalahan banjir ini.  Belanda membangun pintu air besar, yaitu Bendung Katulampa di Bogor. Tujuannya supaya bisa mengukur debit air Kali Ciliwung. Pembangunan pintu air besar ini merupakan sistem peringatan dini yang diharapkan bisa mengatasi permasalahan banjir.

Banjir Jakarta pada 1918 Banjir Jakarta pada 1918 menjadi banjir terparah selama sembilan tahun terakhir. Selama berhari-hari hujan terus mengguyur Batavia. Akibatnya hampir seluruh rumah di Batavia terendam banjir. Gubernur Jenderal JP Graaf van Limburg Stirum dan pejabat Belanda lagi-lagi tidak berdaya untuk mengatasi permasalahan banjir ini. Kanal tetap tidak berfungsi baik karena selalu tersumbat sampah, lumpur dan tanah. Mengutip dari Masalah Banjir di Batavia Abad XIX (2003), permasalahan banjir di Batavia pertama kali ditangani secara sistematik pada pertengahan tahun 1920. Saat itu, di Bogor banyak hutan yang dibuka untuk dijadikan lahan perkebunan teh. Sehingga hal ini dikhawatirkan akan menambah dampak banjir di Batavia kala itu. Oleh karena itu, untuk meminimalisir hal tersebut dibuatlah rencana van Breen atau perbaikan tata-air-ibukota Batavia. Rencana ini merupakan strategi untuk mengendalikan air di Batavia. Secara garis besar, rencana ini lebih diarahkan pada tata lingkungan kota di daerah terbangun. Rencana ini juga dikatkan dengan wacana pembuangan air dan kotoran dari wilayah permukiman yang saat itu sedang dibangun, yakni daerah Menteng. Inti dari rencana van Breen ialah membuat terusan baru yang posisinya melintang ke arah alur sungai di wilayah Batavia, yaitu timur barat di penempatan alur. Hal ini lebih dikenal dengan istilah transversal channel. Pada 1922, juga disusun rencana perbaikan kampung atau Kamppongverbeetering. Namun, rencana ini tidak berjalan lancar karena minimnya alokasi dana.

Banjir Jakarta pada 1932 Banjir terparah kedua setelah 1918 terjadi pada 1932, tepatnya pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal B.C. de Jonge. Selain menjadi banjir terparah kedua, banjir kali ini juga banyak disorot oleh media cetak. Salah satunya surat kabar The Orient yang memberitakan banjir di Jalan Sabang. Karena merupakan pusat pertokoan dan lokasi nongkrong anak muda Batavia.


Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Santunan Anak Yatim 10 Muharram

Menyantuni anak yatim menjadi salah satu amal saleh yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Amalan ini bisa dikerjakan pada 10 Muharram.Dalam kalender Islam, Muharram menjadi salah satu bul

18/07/2024 08:18 - Oleh chotaman - Dilihat 37 kali
Kumpulan catatan wali kelas di raport yang memotivasi

Dalam artikel ini kami sajikan kumpulan catatan wali kelas di raport yang memotivasi, menyentuh, dan singkat. Selain deretan angka yang menjadi jejak langkah para siswa dalam menapaki

21/06/2024 13:47 - Oleh chotaman - Dilihat 245 kali
Pembagian Raport Sebagai Sarana Evaluasi & Motivasi Bagi Peserta Didik

Setelah satu tahun belajar di MTs Negeri 23 Jakarta, saatnya seluruh siswa peserta didik kelas 7 dan 8 mendapatkan laporan hasil belajar (Raport) sebagai bahan evaluasi sekaigus menguku

21/06/2024 08:32 - Oleh chotaman - Dilihat 196 kali
PENGUMUMAN KELULUSAN TAHUN 2023/2024

Kepada seluruh peserta didik kelas IX tahun 2023/2024 disilahkan di cek informasi kelulusannya di https://skl2020.mtsn23jkt.sch.id dimulai tanggal 10 Juni 2024 jam 08.00 sd 11

09/06/2024 14:29 - Oleh chotaman - Dilihat 677 kali
Sumayyah binti Khabath, Syahidah Pertama Islam

Saat memeluk Islam, tiada yang lebih tinggi cita-citanya selain diwafatkan di jalan Allah SWT. Balasan orang yang syahid saat membela agama Allah begitu tinggi. Salah satunya masuk surg

04/06/2024 08:20 - Oleh chotaman - Dilihat 259 kali
Jejak Makam Abu Lahab, Simbol Sejarah Kelam Masa Awal Islam

Di antara hamparan bukit tandus di Jiyad,  Mekkah, terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai Makam Abu Lahab. Sosok Abu Lahab, paman Nabi Muhammad SAW, dikena

04/06/2024 08:01 - Oleh chotaman - Dilihat 376 kali
Jabal Rahmah, tanda Cinta dan Kasih Sayang Allah SWT.

Cinta dan kasih sayang selalu menjadi misteri bagi manusia. Suatu ketika begitu menggairahkan dan penuh gelora, namun tak jarang menimbulkan tragedi dan nestapa. Sejarah dipenuhi dengan

03/06/2024 11:11 - Oleh chotaman - Dilihat 205 kali
Hukum Mengadakan Walimatus Safar bagi Jemaah Haji dan Umrah

Salah satu tradisi di kalangan umat Muslim Indonesia adalah mengadakan walimatus safar haji dan umrah. Walimah berarti “pesta” dan safar artinya “perjalanan”. Ja

31/05/2024 11:00 - Oleh chotaman - Dilihat 234 kali
Impressive Ekskul Robotic, Inilah 5 Manfaat Yang Anda Perlu Ketahui!

Ekskul robotic merupakan tempat dan kegiatan bagi siswa yang sangat dinanti. Siswa belajar banyak dari kegiatan ini. Dari membuat organisasi hingga membimbing bakat mereka yang mungkin

30/05/2024 07:01 - Oleh chotaman - Dilihat 222 kali
Sejarah Gelar Haji Di Indonesia

 Setiap umat Muslim di Indonesia yang sudah selesai ibadah haji di Mekah, akan mendapat gelar “Haji” atau “Hajjah”  di depan nama mere

29/05/2024 14:36 - Oleh chotaman - Dilihat 212 kali